Uncategorized

Sudah Berniat Resign tetapi Masih Dilema? Yuk Pikirkan Sekali Lagi

pixabay.com

Teringat kembali waktu itu saya sudah berniat mengajukan resign. Keinginan ini begitu membuncah. Apalagi entahlah mengapa, beberapa hari belakangan, si putri semata wayang, tiba-tiba saja sering melayangkan protes, bahwa saya sudah tak boleh bekerja. Saya harus selalu menemaninya. Bermain dan belajar bersama. Teringat kembali pada saat istirahat kantor, betapa bahagianya wajah imut itu, menyambut saya yang menjemputnya pulang sekolah. Saya pun jadi berpikir, apakah memang harus benar-benar resign demi memenuhi permintaannya. Tetapi pada akhirnya dengan banyak pertimbangan, saya pun memantapkan hati mengajukan resign.

Sebagai langkah awal saya mencoba berbicara dari hati ke hati dengan atasan. Mengutarakan semua yang menjadi alasan. Mencoba melihat bagaimana  reaksinya. Dan sungguh tak disangka. Si atasan diam seribu bahasa. Tak satu pun keluar respon sebagai bentuk komunikasi dua arah.

Sejak hari itu segala perasaan bercampur aduk. Beberapa pertanyaan terlintas dalam pikiran. Mencoba menggoda untuk mengurungkan niat ini. Suara-suara dalam hati berkata “Sudahlah urungkan saja. Tak akan ada yang memperhatikan niat konyolmu itu.” Tapi sisi hati yang lain berkata “Ayo, jangan mudah galau! Kuatkan hati! Ingat niat  awalmu!”

Hmmm pusing juga akhirnya. Bayangkan saja ketika ada satu niat, namun tak ada yang mendukungnya. Jangankan mendukung. Merespon saja tidak! Hingga saya tiba pada satu kesimpulan. Pokoknya saya harus luruskan niat, bulatkan tekad, berusaha, jalankan dan berdoa. Selebihnya adalah campur tangan Yang Mahakuasa.

Saya mencoba mengingat kembali sebuah pesan dari teman baik. Si teman berkata yang pada intinya, apakah yang menjadi tujuan hidup saat ini. Jika tujuan tersebut bisa dicapai dengan resign, lakukan saja. Namun jika tujuan hidup bisa dicapai tanpa melalui resign, ya tetap bertahan.

Setelah melalui perenungan yang panjang, akhirnya hati kembali memantapkan diri, untuk melanjutkan proses resign ini. Surat resign pun telah meluncur. Sambil menunggu, saya pun bekerja seperti biasa, dan menyerahkan segala urusan resign ini pada Allah SWT. Mencoba meyakinkan diri, bahwa semua akan berjalan sesuai kehendakNya.

Dua hari kemudian terjadi sesuatu, yang sanggup membuat saya dilema terkait keputusan resign ini.    Saya jadi berpikir keras. Apakah benar resign yang saya inginkan saat ini? Sudah yakinkah saya dengan keputusan berat ini? Jangan-jangan saya menyesal di kemudian hari.

Entahlah. Yang jelas dalam beberapa hari itu saya menjadi resah karenanya. Apakah saya harus berpikir ulang tentang keputusan ini.

pixabay.com

Atasan Mulai Perhatian

Setelah sekian lama  tak merespon niat saya, hari itu atasan secara tiba-tiba memanggil untuk berbicara. Wah, akhirnya! Pasti beliau langsung menyetujui keputusan saya. Begitulah yang ada dalam pikiran. Mengingat saya bukan lagi termasuk dalam karyawan dengan usia produktif. Pastilah keputusan resign ini beliau setujui. Namun ternyata  sepenuhnya saya salah. Atasan mencoba mengganggu keteguhan hati. Mencoba mengingatkan kembali prestasi yang pernah saya raih, dan membeberkan hasil kinerja. Tak hanya itu. Atasan juga berjanji akan memberikan jenjang karir lebih. Bahkan atasan juga mengingatkan tentang penghasilan, yang selama ini mampu memenuhi kebutuhan saya, akan otomatis hilang. Jujur saja siapa sih yang tidak galau jika sudah begini?

pixabay.com

Bisakah Saya Hidup Tanpa Penghasilan?

Bekerja adalah salah satu cara untuk mendapatkan penghasilan. Tak dapat dipungkiri. Penghasilan yang didapat secara rutin setiap bulan, adalah satu kepastian yang akan dapat menjamin seluruh kebutuhan. Tak hanya kebutuhan sehari-hari saja. Bahkan kesenangan juga dapat terpenuhi dari penghasilan tersebut. Katakanlah seperti biaya untuk menjalankan hobi, mengikuti pelatihan, atau berjalan-jalan. Nah ketika resign, otomatis penghasilan bulanan tersebut akan lenyap. Bisa jadi setelah itu, saya tak memegang uang sama sekali. Hikks. Meskipun berkali-kali saya meyakinkan diri, bahwa rezeki datang dari Allah, bukan karena bekerja, tetapi membayangkan saya sudah tak berpenghasilan akibat resign, cukup membawa kekhawatiran di dalam hati.

pixabay.com

Bagaimana Cara Saya Habiskan Waktu Pengganti Bekerja?

Jika melihat point ini, saya jadi teringat kembali, bagaimana kehidupan sebelum mendapatkan pekerjaan tetap. Hanya berdiam diri di rumah, melakukan aktivitas di seperti bersih-bersih, atau pekerjaan rumah lainnya. Sungguh sangat membosankan. Apalagi kalau tak memiliki ketrampilan apapun. Ketika bekerja, saya telah terbiasa melakukan aktivitas sesuai jadwal dalam sehari penuh. Pulang kerja langsung meneruskan aktivitas mengurus keluarga. Meskipun ketika resign hanya terjadi pengurangan aktivitas yaitu pekerjaan di kantor, jujur saya sempat merasa gundah. Selain mengurus keluarga, apa yang akan saya lakukan, untuk mengisi waktu di rumah, sebagai pengganti bekerja di kantor? Maklumlah. Sebab setelah terbiasa sibuk, semuanya akan berubah, pasca empat belas tahun lamanya berkutat dengan pekerjaan dan tanggung jawabnya.

pixabay.com

Dua Sisi Mata Uang dalam Keluarga.

Entah mengapa jika di zaman sekarang, penghasilan dalam satu bulan masih saja belum cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Bahkan ketika terdapat dua orang yang bekerja yaitu suami isteri. Inilah yang terkadang membuat seorang isteri, yang semula hanya ibu rumah tangga biasa, pada akhirnya memiliki niat untuk bekerja juga di luar rumah sebagai karyawan. Semua ia lakukan dengan tujuan membantu suami mencari penghasilan. Nah di satu sisi saya memiliki suami yang alhamdulillah berpenghasilan tetap. Namun di sisi lain, ketika memutuskan resign dan kehilangan pendapatan, masih bisakah semua kebutuhan terpenuhi, hanya dari penghasilan suami? Mengingat semakin tak menentunya kondisi perekonomian, dan meningkatnya kebutuhan beserta nominalnya.

pixabay.com

Kok Sepertinya Saya Kurang Bersyukur?

Selama empat belas tahun ini, saya bekerja di perusahaan yang alhamdulillah memberikan banyak sekali keuntungan. Kebutuhan seperti kesehatan, asuransi, tabungan, standar kelayakan penghasilan, semua tercukupi dari perusahaan. Sharing dengan salah satu teman yang bercerita, bahwa rata-rata saat ini seorang karyawan bekerja menggunakan sistem kontrak. Kontrak selesai ya berakhirlah sudah. Harus mencari pekerjaan di tempat lain. Menyimak ceritanya membuat saya merasa bersalah. Apakah saya masih kurang bersyukur dengan pekerjaan ini? Sehingga harus memutuskan mengundurkan diri. Entahlah. Hal ini pula yang sempat menjadikan saya dilema mengambil keputusan resign ini.

pixabay.com

Jangan-jangan Saya Cuma Emosi.

Setiap manusia pasti memiliki emosi, ketika menghadapi sesuatu yang kurang pas di hati. Dan mayoritas hasil dari emosi tersebut adalah, tidak terkontrolnya logika dan akal sehat, sehingga mudah bahkan sedikit kacau dalam mengambil keputusan. Sebelum mengambil keputusan resign, saya memang sempat merasakan bahwa beban kerja semakin bertambah berat. Kondisi perusahaan juga sedang mengalami ujian yang belum ada solusinya. Sehingga keputusan resign ini banyak yang menganggap, bahwa sebenarnya saya hanya emosi dengan semakin beratnya pekerjaan. Benarkah demikian? Ini juga yang sempat terlintas dalam pemikiran.

Seperti dalam tulisan sebelumnya, saya pernah berpendapat bahwa resign bukan perkara mudah. Terlebih bila pikiran sudah dihantui dilema. Pada akhirnya semua harus kembali dan fokus kepada tujuan utama dalam hidup. Setelah itu mengkaji lebih dalam lagi, apakah tujuan hidup itu bisa dicapai dengan resign dari pekerjaan, ataukah tetap bertahan.

Saya ibu rumah tangga yang ingin bercerita, berkisah dan belajar lewat sebuah tulisan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *